Posts

Pada suatu ketika

Image
Ah... udah lama banget ga ada yang nulis disini... semacam rindu menulis dan bercerita, thank goodness for this place. Kali ini, saya bukan akan cerita tentang diri sendiri. Ya, sedikit banyak ada bagian saya disini, tapi tokoh utamanya bukan saya... Saya punya saudara di Bandung, yang tiap ada kesempatan/uang lebih/liburan saya kunjungi. Rumahnya di perumahan di dataran tinggi, di belakang perumahan ada bukit dan di (balik?) bukit itu ada perkampungan. Saya sendiri belom pernah mengunjungi perkampungan itu, ya... selama ini Dago dan jalan-jalan di tengah kota bandung jauh lebih menarik perhatian saya. Ada satu hal yang bikin saya risih di rumah saudara saya itu; Adzan. Bukan, saya bukan nggak suka dengan suara adzan, itu bagian dari hidup kita yang hidup di Indonesia. Siapapun, muslim atau bukan pasti mendengar adzan tiap hari dari masjid-masjid terdekat. Nah, adzan dari salah satu masjid terdekat dengan rumah Saudara saya inilah yang bikin saya risih. Adzannya kayak nggak niat, ...

:(

Image
when he was around, I kinda don’t need this blog. Whenever I have story to share, I’ll come to him first, I love his reaction, always so excited to anything I tell him. Whenever I create something new, he was the first one I will show it to, before then showing it off to the world. Now that he’s gone, I’m kinda lost. he was always there, at the corner, watching me, and maybe now, he still does, who knows? But now he’s invisible, i can not find him, can not see him, can not talk to him and a huge part of me is missing, along with him. Not that I blame him for this feeling I am feeling right now, my bad, I shouldn’t have put on the expectations too high, I’ve learnt that to gain more is to expect less. I crossed the line, I stepped over the limit, and so here I am now, kinda heartbroken and lost. I don’t blame him for this, again, I have to tell you, world. I don’t understand why he disappears, but I believe he has a good reason for this. Still, remembering the days and nights tha...

of the future

Image
What do you want to be when you grow up? No, walaupun serupa, tapi blog post kali ini beda dari postingan sebelumnya... Kalo postingan sebelumnya adalah personal, maka ini adalah... lebih personal lagi (if possible). Ketika mebayangkan tentang masa depan, future, yang ada di otak saya adalah... keluarga. Saya mau jadi istri, lalu jadi mama. Is that even too much to ask? The following will be in english, I'm having hard time expressing myself in Bahasa, seriously! >_< I'm a hopelessly romantic girl. Some other stronger girls maybe will laugh at me, at my need to have someone to lean on. But really, what I want is a wedding, a day marking someone agreed to be with me, bearing all the consequences. Someone I can run to, someone I spend my rest of my life with, someone I can share everything with, someone to build the future with. There, I've said it. So my biggest fear is for those dreams to not happen. What if I never get a chance to marry anyone? What if I can...

saya?

Image
Tiara, 21 Tahun (22 besok maret – mau kasih kado?), Sarjana Sastra, lulusan tahun 2010, senang menggambar dan menabung, kadang menolong orang tua, single, pengangguran dengan impian. Perkenalan tadi udah cukup menjelaskan belom sih? Faktanya, saya sudah lulus kuliah dan masih nggak tau mau jadi apa. Good thing is saya udah lulus kuliah, masalahnya adalah, selepasnya toga dari kepala saya, realization hit, “dang, aku mau jadi apa?!” Momen lulus kuliah itu semacam tamparan, masa kuliah itu menyenangkan, comfort zone yang amat sangat; dikelilingi teman-teman sepanjang hari dengan jalan yang udah ditentukan kemana arahnya; ya, ke hari wisuda itu. Nah sekarang, udah lulus, mau jadi apa? Semacam mengulang lagu yang bertahun-tahun lalu akrab di telinga, “Susan, kalo gede mau jadi apa?” Inget ga betapa gampang ngejawab pertanyaan itu beberapa tahun lalu? Jawabannya bebas banget, asitek, dokter, guru TK, the possibility is endless, sekarang? Sekarang harus mikir beribu kali sebelum ngejawa...

layang-layang

Image
Tiara dan seorang sahabat pergi ke festival layang-layang nasional di pantai… uhm… something, lupa namanya, beberapa waktu yang lalu. Ah, layang-layang, pantai, teman… wonderful day. fly, fly high darling, fly as high as you can no need to worry about falling, it will all be fine Hari itu, setelah sekian lama, Tiara ketemu lagi dengan banyak sekali layang-layang. Warna warni, banyak rupa, dan mereka semua sedang berias, mempercantik diri, sekaligus bersiap terbang, menari, mengisi langit biar jadi warna-warni. Layang-layang, dibuat hati-hati sepenuh hati, harus seimbang karena kalau tidak dia tak akan bisa terbang, pun terbang pasti segera jatuh ke tanah. Layang-layang itu kita, layang-layang itu saya; ya, salah satu dari mereka. Pergi sekolah setiap pagi, dengan bekal di tangan kiri dan buku-buku tersusun rapi. Tiap pagi dikecup manis, didoakan agar suatu hari nanti bisa terbang tinggi. Diserut hati-hati tiap bilah bambunya, dipilih yang terbaik kertasnya, didandani yang can...

belajar tiara?

Image
Blog baru lagi? Ini entah blog keberapa. Blog ini, sebenarnya nggak beda-beda amat dibanding blog Tiara yang lainnya kecuali disini akan lebih banyak pikiran yang tertuang dibanding cerita tentang kejadian sehari-hari (kalo mau baca yang itu, visit littletiara ). Mungkin akan sedikit lebih personal, berbagi pikiran dan tempat saya menuangkan ide-ide yang sering sekali hadir di kepala. Oh, ya... dan Tiara akan berusaha sebaik mungkin menulis dalam bahasa Indonesia disini. Uhm... agak susah dilakukan apalagi setelah sekian lama nulis blog dalam bahasa asing. Maka itulah kenapa "BELAJAR TIARA; menulis, berbahasa, menjadi tiara" , ini tempat untuk saya belajar menulis dengan menggunakan kata bahasa saya untuk menemukan diri sendiri, untuk menjadi Tiara yang se-Tiara mungkin. Maka selamat mengamati, dan (semoga akan) berinteraksi. Blog ini akan dibagi menjadi tiga label; menulis : untuk tulisan-tulisan nggak penting macam sambutan ini, entah kedepannya akan ada apa lagi. ber...